PELANGGARAN HUKUM YANG BERAWAL DARI PELANGGARAN ETIKA

Etika (Yunani Kuno: “ethikos“, berarti “timbul dari kebiasaan”) adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajarinilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar,salahbaikburuk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Berikut contoh kasus pelanggaran hukum yang berawal dari pelanggaran etika :

1. Soal Penggelapan Dana, BNI Dukung Penegakan Hukum

             JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mendukung seluruh upaya penegakan hukum pada kasus dugaan penyalahgunaan dana BNI Kantor Kas Ketapang, Sampang, Jawa Timur. Dalam pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (11/10/2013), Corporate Secretary BNI Tribuana Tunggadewi mengatakan, pihaknya telah melaporkan kasus tersebut kepada Kepolisian Resor Sampang Madura dan selanjutnya bekerja sama untuk mengungkap dan menyelesaikan kasus ini.”Laporan yang disampaikan tersebut muncul karena sistem audit internal di BNI berjalan dengan baik, sehingga kasus ini dapat ditemukan dengan cepat. Temuan audit internal BNI menunjukkan bahwa penyalahgunaan ini diduga dilakukan oleh seorang staf di BNI Kantor Kas Ketapang,” terang Tribuana. Laporan dugaan penyalahgunaan dana di Kantor Kas Ketapang tersebut disampaikan kepada pihak kepolisian oleh pimpinan BNI Kantor Cabang Utama Madura pada 21 September 2013.

“Berdasarkan laporan tersebut pelaku sudah ditahan oleh pihak kepolisian. Langkah ini menjadi bukti bahwa BNI tidak mentolerir setiap penyalahgunaan yang dilakukan oleh stafnya,” lanjut Tribuana. Dia menambahkan, pelaporan penyalagunaan dana dan audit internal merupakan wujud komitmen BNI dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. “Jadi, nasabah tidak perlu khawatir karena dananya yang tersimpan di BNI terjamin aman,” Tribuana menegaskan.

Seperti diberitakan, kasus penggelapan uang sebesar Rp 3,75 miliar oleh EF, pimpinan Kantor Kas Bank Negara Indonesia (BNI) Kabupaten Sampang, Jawa Timur, kini telah ditangani Kepolisian Resor Sampang, Madura. Oleh tersangka, dana yang digelapkan itu dijadikan modal untuk melakukan tindakan pidana lain berupa judi online lintas negara, dan untuk pesta bersama perempuan bayaran.

Opini :

Pelaku penggelapan dana dilakukan berawal dari pelanggaran etika yaitu kebiasaan pelaku bermain judi online dan pesta bersama perempuan bayaran sehingga membuat pelaku sulit untuk berhenti dari kebiasaanya sehingga membuat pelaku seorang yang berpendidikan tinggi melakukan pelanggaran hukum.

2.Lakukan Penggelapan Uang, Direksi Bank Dibekuk

              JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan direksi BPR Bumidhana Adhigraha, Deni Azhar Lubis (53), diringkus penyidik Polresta Tangerang karena melakukan tindak pidana penggelapan uang dari bank tersebut.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Tangerang Komisaris Shinto Silitonga mengatakan, Deni ditangkap di rumahnya di Tanjung Duren, Jakarta Barat, bulan lalu. Penangkapan Deni itu berawal dari laporan yang dibuat oleh staf Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Bank Indonesia pada 30 September 2011. Dalam sebuah pengecekan rutin, tim dari Bank Indonesia menemukan adanya rekayasa pencatatan kredit serta penerimaan fee oleh direksi BPR Bumidhana Adhigraha.

Setelah temuan itu diungkap, diadakan pemeriksaan khusus dari Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan BI, untuk selanjutnya dilaporkan ke Polresta Tangerang. Laporan ditujukan ke sana sebab kantor BPR terletak di Jalan Raya Serang Km 17, Kecamatan Cikupa, Tangerang. Deni dan sejumlah rekannya diduga memalsukan komponen dokumen pengajuan kredit dari 169 nasabah dengan nilai Rp 8,3 miliar.

“Kredit disetujui karena Deni adalah direksi dan memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan,” kata Shinto padaKompas.com, Senin (4/3/2013).Setelah dana kredit tersebut cair, Deni membagikan dana itu dengan pihak-pihak yang membantunya sehingga menyebabkan kerugian pada BPR. Penyidik Polresta Tangerang lalu mengumpulkan sejumlah bukti berupa dokumen pengajuan kredit 169 nasabah, kuitansi, surat pernyataan, dan dokumen penting lain.

“Proses pengungkapannya cukup lama karena harus memeriksa dokumen yang cukup lama, juga melakukan pencarian terhadap pelaku,” jelas Shinto. Selain menangkap Deni, penyidik juga menyita barang bukti berupa satu sepeda motor, empat ponsel, dan uang tunai sebanyak Rp 6 juta. Penyidik masih mencari tersangka lain, yaitu calo pencari kredit, analis kredit, dan kepala bagian kredit, untuk menyempurnakan pengungkapan kejahatan perbankan ini.

Deni kini meringkuk di tahanan Mapolresta Tangerang. Ia dibidik pasal berlapis, yaitu Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dengan ancaman pidana 5-10 tahun penjara.

Opini :

Pelaku menyalahgunakan jabatannya untuk menggelapkan uang perusahaannya sehingga membuat kerugian yan cukup besar bagi perusahaannya.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

http://regional.kompas.com/read/2013/10/11/1545508/Soal.Penggelapan.Dana.BNI.Dukung.Penegakan.Hukum

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/04/22340188/Lakukan.Penggelapan.Uang..Direksi.Bank.Dibekuk

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: